Sabtu, 19 Februari 2011

pertolongan korban di air

Karakteristik korban

Sering kita melihat di serial TV “Baywatch”, adegan seorang penjaga pantai menolong korban yang hampir tenggelam, ketika di dekati si korban langsung diam dan terlihat tenang saat ditolong. Namun faktanya tidak demikian. Tidak semua korban akan tenang saat ditolong, bahkan sebagian besar korban akan tetap panik saat ditolong. Kepanikan korban tersebut dapat membahayakan penolong yang mencoba untuk mendekatinya.

Pengetahuan kita tentang karakteristik korban yang sedang tenggelam akan sangat menentukan teknik yang dipilih saat melakukan pertolongan. Tentunya disesuaikan dengan karakteristik korbannya.

Secara umum, korban yang sedang tenggelam di bagi menjadi 4 tipe :

1. Bukan seorang perenang (non swimmer)

Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik

  • Posisi badan terlihat tegak lurus dengan permukaan air (vertikal)
  • Gerakan kasar dan cenderung tidak berpola
  • Wajah terlihat sangat panik
  • Arah tatapan tidak jelas
  • Hanya fokus untuk mengambil napas

Saat ditolong

  • Mungkin akan berusaha untuk meraih penolong
  • Tidak dapat mengikuti perintah atau tidak dapat komunikasi
  • Selalu ingin dalam posisi vertikal, sehingga cenderung panik jika ditolong dalam keadaan horisontal
  • Selalu berusaha kepala dan dada berada di atas permukaan air

Yang di perhatikan penolong

  • Korban tipe ini sangat berbahaya bagi penolong
  • Sebisa mungkin hindari pertolongan dengan menggunakan teknik contact rescue /tow

2. Perenang yang cidera

Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik

  • Posisi badan mungkin terlihat agak aneh tergantung dari bagian tubuh yang cidera
  • Gerakan terbatas disebabkan oleh cidera
  • Wajah terlihat cemas, bahkan mungkin terlihat kesakitan
  • Bisa terjadi panik

Saat ditolong

  • Mungkin tidak merespon perintah karena lebih fokus terhadap rasa sakitnya
  • Berusaha mempertahankan posisi karena biasanya memegangi area yang cidera

Yang diperhatikan penolong

  • Kemungkinan akan membawa korban dalam posisi yang agak aneh (sesuai cideranya)
  • Perhatikan cidera yang dialami

3. Perenang yang kelelahan

Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik

  • Terlihat pola kayuhan yang lemah
  • Posisi badan biasanya membentuk sudut dengan permukaan air
  • Wajah memandang ke tepian atau perahu yang di dekatnya
  • kepala kadang tidak terlihat
  • dapat melambai untuk meminta bantuan
  • Wajah mungkin terlihat lelah atau cemas

Saat ditolong

  • Merespon perintah penolong dengan baik
  • Kooperatif saat ditawarkan bantuan
  • Bisa di topang dalam keadaan terlentang

Yang diperhatikan penolong

  • Dapat ditolong menggunakan teknik contact rescue
  • Lebih mudah untuk ditolong

4. Tidak sadar (pasif)

Pada tipe ini, korban memiliki karakteristik

  • Terlihat tidak bergerak
  • Mungkin hanya terlihat sebagian punggung
  • Mungkin hanya terlihat puncak kepala saja
  • Wajah biasanya menghadap ke dasar

Saat ditolong

  • Tidak kooperatif
  • Mungkin akan cukup sulit untuk melakukan manuver terhadap tubuh korban

Yang diperhatikan penolong

  • Buoyancy korban sangat bervariasi
  • Membutuhkan pertolongan dengan teknik contact rescue
  • Perhatikan pernapasan korban, jika tidak bernapas lakukan sesegera mungkin bantuan napas
  • Penggunaan alat bantu apung (pelampung) akan sangat membantu dalam pemberian napas
  • Kadang terjadi keadaan yang disebut pasif – aktif, yaitu keadaan dimana korban terlihat pasif (tidak bergerak) namun saat di sentuh berubah menjadi aktif. Ini sangat membahayakan penolong. Oleh karena itu lakukan teknik mendekati korban dengan benar.

Selain karakteristik korban tadi, juga diperlukan kemampuan untuk memperkirakan buoyancy dari korban dengan melihat postur tubuh terutama saat melakukan contact tow. Korban yang gemuk cenderung akan mudah mengapung, namun akan lebih berat saat menariknya ke tepi. Sebaliknya korban yang kurus cenderung akan mudah tenggelam, namun akan lebih ringan saat menariknya ke tepi.

selanjutnya »»

Kamis, 17 Februari 2011

Sikap Bijak Untuk Alam

Perilaku bijak saat di pantai itu perlu. Pantai-pantai Indonesia yang indah dan menawan dengan berbagai kekayaan yang terkandung di dalamnya memerlukan sikap dan perilaku yang bijak dari kita agar terhindar dari kerusakan dan tetap indah.

Perilaku bijak saat rekreasi maupun melakukan olahraga di pantai ini, meski kecil, namun sangat penting kita lakukan untuk tetap mempertahankan keindahan pantai dan kelestarian biota yang terdapatnya. Tingkat abrasi pantai yang sangat tinggi, seyogyanya tidak kita perparah lagi dengan sikap dan perilaku kita yang kurang bijak dan bersahabat di pantai.

Perilaku dan sikap bijak saat berada di pantai itu antara lain:

  • Tidak membuang sampah di pantai atau di laut.

Perilaku membuang sampah di pantai atau laut selain mengotori pantai dan laut juga dapat menyebabkan kematian biota laut. Sebagai contoh, penyu, anjing laut, dan satwa lain sering kali memakan sampah-sampah plastik yang mengambang di laut karena menyangka ubur-ubur. Sampah plastik ini tidak dapat dicerna oleh penyu, sehingga banyak menyebabkan kematian.

Sampah, terutama plastik, tidak dapat terurai di dalam laut dan akan terhanyut hingga ke lepas samudera. Dalam tahun 2006 PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat 46.000 sampah plastik mengambang di lautan. Akibat sampah ini banyak binatang laut yang terperangkap dan mati. Diperkirakan, sampah plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya.

  • Tidak membeli awetan satwa laut.

Sering kali kita menjumpai para penjual awetan binatang-binatang laut seperti penyu dan taring ikan duyung. Sikap tidak membeli awetan satwa-satwa laut tersebut secara tidak langsung kita telah mengurangi perburuan dan eksploitasi biota laut secara berlebihan.

  • Tidak membeli cindera mata terbuat dari terumbu karang.

Terumbu karang banyak diperjualbelikan sebagai cindera mata. Padahal menurut studi yang dilakukan oleh COREMAP (2000), menyimpulkan bahwa kondisi terumbu karang Indonesia yang masih “sangat bagus” hanya 6,1% dan hanya 22,68% yang berstatus “bagus”. Selebihnya dalam kondisi rusak (31,46%) dan rusak berat (39,76 %).

Sikap tidak membeli cindera mata yang terbuat dari terumbu karang secara tidak langsung memberikan kontribusi pada usaha pelestarian terumbu karang di Indonesia.

  • Tidak menginjak atau memegang terumbu karang saat menyelam.

Selain menghindari perilaku membeli cindera mata dari terumbu karang, perlu diperhatikan juga sikap untuk tidak menginjak atau memegang terumbu karang saat melakukan penyelaman.

Perlu diketahui, Indonesia Terumbu karang Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dengan lebih dari 18% dari total terumbu karang di dunia. Sejauh ini telah tercatat lebih dari 750 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga terdapat di Indonesia. Kekayaan alam ini jangan sampai rusak hanya gara-gara sikap kita yang kurang bijak saat menikmati keindahannya.

  • Tidak menangkap ikan menggunakan bahan peledak atau zat kimia.

Menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak dan zat kimia selain merusak terumbu karang, perilaku ini juga berakibat mematikan biota laut lainnya yang bukan target.

Dengan sedikit perilaku dan sikap bijak kita di pantai semoga mampu mempertahankan dan menjaga keindakan pantai-pantai Indonesia sehingga kelak pantai-pantai itu masih tetap mampu mempesona anak cucu kita kelak.

selanjutnya »»

Selasa, 15 Februari 2011

bahaya di pegunungan

Bahaya di Pegunungan


Bahaya di pegunungan dibedakan menjadi :

a. Bahaya subyektif, disebabkan oleh orang yang mendaki gunung sendiri.
b. Bahaya obyektif, disebabkan oleh gunung atau lapangan/alam itu sendiri.

Dalam praktek tidak mungkin mengadakan perbedaan eksas (pasti), karena banyak terjadi bahaya yang obyektif dibandingkan dengan bahaya subyektif, apabila orang melakukan kesalahan dan tidak ingat akan bahaya tersebut.

Barangsiapa sebelumnya mengetahui bahaya-bahaya yang obyektif seperti :
1. Kejatuhan batu
2. daerah-daerah yang berbahaya
3. petir
4. kabut
5. udara yang mendadak menjadi buruk

Maka dia akan dapat menghindari (tidak tentu) bahaya-bahaya tersebut.
Barangsiapa pada waktu akan terjadi bahaya, dengan cepat dan dengan cara yang benar menghindarkan diri dari bahaya-bahaya tersebut, ada harapan untuk hidup lama di pegunungan

.

Bahaya-bahaya yang subyektif seperti :
1. keadaan atau lemah badan dari orang yang akan mendaki
2. pengetahuan dan pengalaman yang kurang merupakan unsur-unsur yang lebih rumit.

Dorongan hati untuk pegang peranan dan penyakit ingin dihormati oleh sesama orang, untuk menggantikan prestasi orang lain, membuat orang menjadi buta dan akan memiliki nasib yang tidak baik dipegunungan. Orang yang menderita tekanan jiwa, tidak boleh mendaki gunung. Perjalanan ke gunung yang sunyi dapat menimbulkan keajaiban.

a. Batu yang jatuh dari gunung, merupakan ancaman bahaya besar.

Hembusan angin yang kuat, hujan angin, menyebabkan batu-batu tersebut berjatuhan. Juga orang dan binatang, dapat menyebabkan batu-batu berjatuhan.
Pada masa sekarang ini dimana banyak perjalanan dilakukan di pegunungan, batu-batu yang berjatuhan, disebabkan oleh pendaki gunung yang kurang hati-hati, merupakan salah satu bahaya yang terpenting di pegunungan.
Pada batu karang yang banyak mengandung batu-batu lepas, merupakan bahaya yang lebih besar dari pada batu karang yang mengandung batu-batu tetap. Puing-puing yang banyak pada batu karang dan parit-parit yang sempit serta dalam, merupakan saksi dari batu-batu yang jatuh. Karena batu-batu yang jatuh itu disebabkan oleh belahan, parit-parit yang sempit dan dalam di tempat-tempat dan dalam di tempat-tempat tertentu, maka di tempat tersebut terjadilah bahaya yang lebih besar.

b. Apa yang kita kerjakan kalau ada petir?

Tempat-tempat khusus yang berbahaya bagi petir adalah :

    1. Tempat-tempat yang menonjol sperti : puncak, salib pada gunung, batu karang yang menonjol, pohon-pohonan, sungai-sungai. Batu karang pada umumnya lebih berbahaya daripada salju. Pada cuaca buruk, segera tinggalkan tempat-tempat tersebut.
    2. Segi tiga pada batu karang.

Perlindungan yang terbaik dari sambaran petir ialah : mengurungkan untuk berjalan atau lebih awal pulang.
Cuaca buruk jarang datang pada siang hari atau pada pagi hari. Pada waktu ada petir segera jongkok, duduk di atas tanah atau duduk diatas ransel atau tali yang sedang digulungkan dan menunggu sampai petir hilang.
Jangan sekali-kali bersembunyi dalam gua, imbang/bersender pada dinding.
Tempat-tempat itu sangat berbahaya, karena tanah yang meledak dan emosi. Kran air, kawat baja dan kawat berduri jangan sampai di sambar petir. Meskipun itu tidak secara langsung menarik logam, tetapi mengalirkan listrik (penghantar yang baik).

c. K a b u t

Kabut menimbulkan persoalan pada waktu kita mencari keterangan tentang tempat yang akan kita datangi. Kita harus membawa peta, kompas, meteran untuk mengukur tekanan udara. Pada waktu ada kabut tebal, kita harus percaya pada alat-alat kita itu.

d. Udara mendadak menjadi buruk

Keadaan udara yang mendadak menjadi buruk di pegunungan, harus mendapat perhatian yang serius. Pada perjalanan yang berat, kita mengambil resiko (kesempatan yang berbahaya) tentang udara yang mendadak menjadi buruk. Untuk perjalanan semacam itu, sebaiknya, menunggu cuaca yang baik.
Menunggu yang sabar, pada waktu pulang, keberanian, kewaspadaan dan perasaan bertanggung jawab, merupakan syarat bagi pendaki gunung.
Tanpa pertimbangan, begitu saja melakukan perjalanan, tidak lain hanya merupakan kebodohan saja. Barang siapa tidak mengenal bahaya, akan mejadi berani.

selanjutnya »»